Jakarta – Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) periode 2025-2027, Riyan Betra Delza, mengajak seluruh mahasiswa di Indonesia untuk menahan diri dari aksi demonstrasi yang bersifat anarkis menjelang peringatan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional 10 Desember 2025. Pernyataan itu disampaikan Delza di tengah meningkatnya isu-isu sosial politik yang berpotensi memicu kerusuhan.
Dalam keterangan tertulis yang diterima Jumat (5/12/2025), Delza menekankan bahwa semangat Hari HAM harus diwujudkan melalui dialog konstruktif, bukan kekerasan atau tindakan yang merugikan masyarakat. “Kami memahami keresahan mahasiswa terhadap berbagai isu hak asasi, mulai dari kebebasan berpendapat hingga penegakan hukum. Namun, aksi anarkis justru akan melemahkan substansi perjuangan HAM itu sendiri,” ujar Delza.
Menurut Delza, IMM sebagai organisasi mahasiswa Islam yang progresif berkomitmen mendukung aspirasi rakyat melalui jalur yang damai dan beradab. Ia mengingatkan kronologi aksi-aksi mahasiswa sebelumnya, seperti demonstrasi Reformasi 1998 yang berhasil karena disiplin dan solidaritas, bukan kekacauan. “Jelang Hari HAM 2025, mari kita tunjukkan bahwa mahasiswa adalah agen perubahan yang bertanggung jawab. Hindari provokasi yang bisa dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk memburukkan gerakan kita,” tambahnya.
Pernyataan ini muncul di saat pemerintah tengah menggelar dialog nasional soal penegakan HAM, termasuk kasus-kasus pelanggaran di Papua dan isu diskriminasi etnis. Delza juga mengajak jaringan IMM di 34 provinsi untuk menggelar diskusi kampus dan seminar daring bertema “HAM Beradab: Dari Aspirasi ke Kebijakan” sebagai alternatif aksi jalanan.
Hingga kini, belum ada konfirmasi dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) terkait imbauan ini. Namun, pengamat gerakan mahasiswa menilai pesan Delza selaras dengan semangat Undang-Undang No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.








