Jakarta – Aliansi Wartawan Online Indonesia (AWOI) secara tegas mengecam sikap dan pernyataan kontroversial Edi Mulyadi yang dinilai tidak mencerminkan etika dan tanggung jawab seorang wartawan senior.
Pernyataan-pernyataan Edi Mulyadi belakangan ini dianggap memicu kegaduhan publik dan bahkan berpotensi menimbulkan ancaman terhadap integrasi bangsa.
Dalam pernyataan resminya, AWOI menilai bahwa Edi Mulyadi tidak belajar dari pengalaman masa lalunya, terutama saat ia menuai kecaman luas akibat pernyataannya yang menyebut Kalimantan sebagai “tempat jin buang anak.” Pernyataan itu kala itu membakar kemarahan masyarakat Kalimantan dan menjadi sorotan nasional.
“Seharusnya Edi Mulyadi mampu mengambil pelajaran dari insiden tersebut agar lebih berhati-hati dan objektif dalam menyampaikan pendapat, terutama yang berkaitan dengan isu-isu politik dan sosial yang sensitif,” ungkap perwakilan AWOI dalam siaran persnya.
AWOI menilai bahwa sebagai wartawan senior, Edi Mulyadi seharusnya menjadi contoh dalam menjaga marwah profesi jurnalis, bukan justru memperkeruh suasana dengan narasi-narasi bernada kebencian, fitnah, dan provokasi.
AWOI juga menyerukan kepada Dewan Pers dan organisasi profesi wartawan lainnya untuk meninjau ulang status etik Edi Mulyadi dalam dunia jurnalistik. Hal ini dinilai penting untuk menjaga kredibilitas profesi wartawan di mata publik.
“Jangan sampai publik menilai bahwa semua wartawan bisa bersikap sembarangan. Profesi ini punya tanggung jawab besar dalam menjaga kebenaran, integritas, dan persatuan bangsa,” tegas AWOI.
Di akhir pernyataannya, AWOI mengajak seluruh masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh opini-opini subyektif yang dibungkus seolah-olah sebagai fakta, terutama jika berasal dari pihak-pihak yang memiliki rekam jejak kontroversial.
Rilis ini menjadi sinyal bahwa dunia pers Indonesia tidak tinggal diam dalam menghadapi oknum-oknum yang merusak nilai-nilai dasar jurnalistik dan mengancam stabilitas sosial lewat narasi yang tidak bertanggung jawab.








