Tri Mumpuni: EBT Harus Menjadi Instrumen Keadilan Sosial

Nasional25 views

JAKARTA – Pelopor elektrifikasi pedesaan dan tokoh penggerak energi terbarukan berbasis masyarakat, Tri Mumpuni Wiyatno, menegaskan bahwa agenda transisi energi dari bahan bakar fosil menuju Energi Baru Terbarukan (EBT) harus terus berjalan meskipun dunia tengah menghadapi ketidakpastian pasokan energi akibat berbagai konflik geopolitik global.

Menurut Tri Mumpuni, gejolak yang terjadi di berbagai kawasan dunia justru menjadi pengingat penting bagi Indonesia untuk mempercepat pemanfaatan sumber energi terbarukan yang melimpah di dalam negeri guna memperkuat ketahanan energi nasional.

“Renewable energy itu harus. Transisi energi harus tetap berjalan,” kata Tri Mumpuni dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (20/6/2026).

Anggota Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tersebut menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil melalui pengembangan energi air, tenaga surya, panas bumi, angin, biomassa hingga berbagai sumber energi alternatif lainnya yang tersebar di berbagai daerah.

Selain mendukung ketahanan energi nasional, percepatan pengembangan EBT juga dinilai penting untuk memperluas akses listrik bagi masyarakat yang tinggal di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang hingga kini masih menghadapi keterbatasan infrastruktur energi.

Transisi Energi Harus Berkeadilan

Tri Mumpuni menegaskan bahwa transisi energi tidak boleh hanya menjadi proyek pemerintah maupun industri besar. Menurutnya, masyarakat harus ditempatkan sebagai bagian utama dalam proses pengembangan energi terbarukan agar manfaat ekonomi dan sosialnya dapat dirasakan secara merata.

“Skema transisi energi ke EBT harus melibatkan masyarakat. Karena itu saya selalu menyampaikan bahwa pengembangan energi terbarukan harus mengedepankan prinsip keadilan. Masyarakat harus mendapat porsi yang nyata dalam isu renewable energy ini,” ujarnya.

Ia menilai konsep transisi energi yang berkeadilan akan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekaligus menciptakan kemandirian energi di tingkat lokal.

PLTMH Jadi Bukti Keberhasilan Energi Berbasis Masyarakat

Pengalaman panjang Tri Mumpuni dalam membangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di berbagai wilayah terpencil Indonesia menjadi contoh nyata keberhasilan pengembangan energi terbarukan berbasis komunitas.

Menurutnya, keterlibatan masyarakat sejak tahap perencanaan, pembangunan hingga pengelolaan membuat infrastruktur energi yang dibangun mampu bertahan selama puluhan tahun.

“Ketika masyarakat dilibatkan sejak awal, mereka merasa memiliki. Karena itu banyak PLTMH yang kami bangun bersama masyarakat sejak tahun 1990-an masih beroperasi hingga sekarang karena dirawat dan dijaga oleh warga setempat,” tuturnya.

Model tersebut, lanjut Tri, membuktikan bahwa masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan energi, tetapi juga mampu menjadi penggerak utama pengembangan EBT di daerahnya masing-masing.

Patriot Energi Dorong Anak Muda Kembangkan Potensi EBT Daerah

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Inisiatif Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA) itu juga menyampaikan apresiasinya terhadap Program Patriot Energi yang melibatkan generasi muda dalam pengembangan energi terbarukan di daerah 3T.

Menurutnya, program tersebut menjadi wadah penting bagi anak muda untuk berkolaborasi dengan masyarakat dalam mengidentifikasi, mengembangkan, dan mengelola potensi energi lokal yang tersedia.

“Program Patriot Energi sangat baik karena mendorong anak-anak muda bersama masyarakat di daerah 3T untuk mencari dan mengembangkan potensi energi terbarukan yang ada. Ini merupakan salah satu jalan menuju demokratisasi energi sekaligus demokratisasi ekonomi bagi masyarakat Indonesia,” katanya.

Ia menambahkan, keterlibatan generasi muda menjadi faktor strategis dalam mempercepat pemerataan akses energi sekaligus memperkuat pembangunan ekonomi berbasis potensi lokal.

Target NZE 2060 Harus Disertai Pelibatan Rakyat

Lebih lanjut, Tri Mumpuni mengingatkan bahwa Indonesia telah menetapkan target mencapai Net Zero Emission (NZE) pada 2060. Untuk mencapai target tersebut, diperlukan optimalisasi seluruh sumber energi rendah karbon yang dimiliki Indonesia.

Menurutnya, pengembangan tenaga air, tenaga surya, panas bumi, angin, biomassa, biofuel hingga energi nuklir perlu dilakukan secara terencana dan berkelanjutan. Namun yang tidak kalah penting adalah memastikan masyarakat ikut terlibat dalam proses transisi energi tersebut.

“Komitmen menuju NZE 2060 harus dibarengi dengan komitmen melibatkan masyarakat. Rakyat harus mendapat tempat dalam pembahasan dan pelaksanaan transisi energi nasional,” tegasnya.

BRIN Kembangkan Petasol dari Sampah Plastik

Selain pengembangan EBT, Tri Mumpuni juga menyoroti inovasi yang tengah dikembangkan BRIN berupa Petasol, bahan bakar alternatif hasil pengolahan sampah plastik melalui teknologi pirolisis.

Menurutnya, inovasi tersebut mulai dimanfaatkan oleh masyarakat, terutama nelayan dan petani, sebagai sumber energi alternatif yang lebih mudah diakses dan bernilai ekonomis.

“Nelayan kini bisa memperoleh bahan bakar dari bank sampah yang mengelola Petasol. Begitu juga para petani yang memanfaatkan bahan bakar hasil pirolisis plastik untuk mengoperasikan traktor dan mengolah lahan pertanian mereka,” jelasnya.

Energi Adalah Fondasi Pembangunan Ekonomi

Pada akhirnya, Tri Mumpuni menegaskan bahwa akses terhadap energi dan listrik merupakan fondasi utama pembangunan ekonomi masyarakat. Karena itu, seluruh warga negara harus memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh akses energi yang terjangkau dan berkelanjutan.

“Ketika masyarakat memiliki akses terhadap energi dan listrik, maka aktivitas ekonomi akan tumbuh lebih cepat. Energi adalah tulang punggung pembangunan ekonomi. Karena itu demokratisasi energi harus diwujudkan agar masyarakat memiliki ruang untuk memenuhi kebutuhan energinya secara mandiri dengan memanfaatkan potensi energi terbarukan yang tersedia di daerah masing-masing,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *